Mengenai Saya

Foto saya
IKADI Daerah Kaupaten Padang Pariaman adalah merupakan Organisasi Islam yang bergerak di bidang Dakwah, Pembinaan dan pendidikan Islam. sekretariat IKADI Padang Pariaman di Mesjid Baitul Makmur Kapalo Koto Kec.Nansabaris Padang Pariaman.

Rabu, 21 September 2011

Mewaspadai Perangkap Umniyah dalam Berdakwah



SENIN, 16 MEI 2011 ZULHAMDI

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (52) لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ (53) وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (54).

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap umniyah (keinginan) itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat. Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus." (Al Hajj: 52-54)

Umniyah atau keinginan dan cita-cita mulia para penyeru dakwah, kadang kala sering disusupi oleh setan. Sehingga para dai perlu waspada akan fitnah yang bakal ditimbulkan dari bahaya bisikan tersebut. Kemudian para penyeru dakwah yang mengetahui kebenaran itu hendaklah selalu menjadikan Al Quran sebagai acuan dalam bergerak, sehingga hati mereka selalu tunduk dengan manhaj Allah. Begitulah bunyi ayat di atas mengisyaratkan

Dalam mengupas ayat ini Shohibul Zhilal mengatakan: "Sesungguhnya para Rosul ketika dibebankan kepada mereka tugas menyampaikan risalah kepada umat manusia, perkara yang paling mereka senangi adalah berbondong-bondongnya manusia menyambut dakwahnya dan umat mengetahui kebenaran yang mereka bawa dari sisi Allah sehingga manusia mengikutinya. Namun rintangan di jalan dakwah sangatlah banyak, sementara para rasul itu adalah manusia yang memiliki keterbatasan. Mereka sangat menyadari hal ini, maka merekapun berangan-angan agar manusia tertarik kepada dakwah dengan jalan dan cara lain yang cepat."

Sebab turun ayat di atas menurut ahli tafsir diantaranya Ibnu Katsir: "Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa orang musyrik berkata, "Seandainya Muhammad menyebut berhala-berhala kami dengan sesuatu yang baik, pasti kita akan mempercayainya dan sahabat-sahabatnya. Namun dia tidak menyinggung apapun tentang orang-orang yang berbeda agama dengannya seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani dengan celaan dan keburukan seperti yang dikatakan terhadap berhala-berhala kami." Pada saat itu nabi dan para sahabatnya telah mencapai puncak penderitaan dan pendustaan, Rasulullah merasa sedih hatnyai, dan menginginkan hidayah Allah bagi mereka. Setelah Allah menurunkan surat An Najm dan sampai pada firmannya:

أَفَرَأَيْتُمُ اللاتَ وَالْعُزَّى . وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأخْرَى . أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الأنْثَى

"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, (sebagai anak perempuan Allah." )." Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk-Nya yang perempuan? (An-Najm: 19-21)

Setan menambahkan beberapa kata disana:

وإنهن لهن الغرانيق العلى. وإن شفاعتهن لهي التي ترتجى

"Sesungguhnya thagut-thagut itu memiliki burung yang tinggi. Dan sesungguhnya syafaatnya sangat di harapkan."

Dua kalimat itupun merasuk ke dalam setiap hati orang-orang musyrik di Mekah, lidah mereka menuturkan secara luas dan mereka bergembira karenanya.

Setelah Rasulullah menyelesaikan bacaan akhir surat an Najm, beliau melakukan sujud tilawah, dan bersujud pula seluruh yang hadir pada waktu itu, baik muslim maupun musyrik. Kedua kelompok inipun sama-sama terkejut atas sujud yang dilakukan oleh masing-masing, karena mengikuti sujud Rasulullah. Sedangkan orang-orang beriman merasa terkejut dengan sujudnya orang-orang musyrik tanpa keimanan mereka. Karena orang-orang beriman pada saat itu belum mendengar bisikan yang diselipkan oleh setan kepada telinga orang musyrik itu. Maka, orang-orang musyrik itupun merasa senang dengan bisikan yang diselipkan oleh setan dalam umniyah (angan-angan) Rasulullah. Sehingga menyebarlah berita itu sampai ke Habasyah dan Etiopia. Namun Allah telah menghapus sisipan bisikan setan itu dan menetapkan ayat-ayatnya. Setelah Allah menerangkan dan membersihkan ayat-ayat-Nya maka berbaliklah orang-orang musyrik itu kepada kesesatan dan permusuhan mereka terhadap kaum muslimin bahkan lebih kejam dari sebelumnya." Riwayat di atas adalah mursal (yang tidak sampai ke nabi).

Setelah mengutip riwayat di atas, Imam Al Hafizh Ibnu Katsir mengomentarinya dengan sebuah ungkapan yang cerdas: "Bagaimana mungkin hal itu terjadi dengan penjagaan Allah dan kema'suman Rasulullah?. Hal itu dibisikkan setan kepada pendengaran orang-orang musyrik. Sehingga mereka menyangka bahwa hal itu keluar dari mulut Rasulullah, padahal bukan demikian halnya. Sesungguhnya itu hanyalah buatan dan bisikan yang dirasakan oleh orang-orang musyrik dan sama sekali bukan dari Rasulullah yang merupakan utusan Allah yang maha penyayang."

Shohibul Zhilal kemudian menjelaskan: "Setan menemukan peluang dalam angan-angan para rasul yang demikian. Sehingga, dalam penafsiran beberapa tindakan dan kalimat yang keluar dari para rasul, setan memiliki peluang untuk melakukan tipudaya dalam dakwah, menyimpangkannya dari kaidah-kaidahnya, meletakkan syubhat di sekitarnya. Namun Allah menjadi penghalang bagi tipudaya setan tersebut."

"Kadangkala semangat berapi-api dan berkobar-kobar dari para penyampai dakwah serta keinginan mereka yang menggebu-gebu untuk menyebarkan dakwah dan melihat segera kemenangannya, mendorong para penyampai dakwah menarik sebagian individu dan beberapa unsur penting masyarakat dengan cara mengacuhkan beberapa permasalahan dakwah yang mereka anggap bukan merupakan dasar, prinsip dan pokok dakwah. Kemudian mereka berkompromi dengan manusia dengan beberapa urusan agar mereka tidak lari dari dakwah dan memusuhinya".

"Kadangkala juga hal itu mendorong mereka untuk menggunakan cara-cara dan metode-metode yang tidak sesuai dengan standar-standar (timbangan) dakwah yang seutuhnya dan tidak pula sesuai dengan manhaj yang lurus. Mereka melakukan hal itu karena didorong oleh keinginan untuk segera melihat kemenangan dakwah. Mereka juga menganggap itu sebagai ijtihad dalam rangka merealisasikan kemaslahatan dakwah. Sedangkan, maslahat dakwah yang sesungguhnya adalah di dalam keistiqomahan mereka di atas manhaj tanpa menyimpangan sedikitpun apalagi banyak."

Oleh karena itu, para pembawa misi dakwah tidak layak menakar dan mengukur keberhasilan dakwah dari segi buah-buah dan hasil-hasilnya saja. Kewajiban mereka hanyalah bertolak dalam kereta dakwah di atas manhaj yang murni, jelas dan mendalam. Kemudian menyerahkan kepada Allah untuk menilai hasil dari sikap istiqomahnya dalam dakwah itu. Yang harus diyakini dengan sungguh-sungguh adalah bahwa hasil yang diperoleh pada akhirnya pastilah sebuah kebaikan.

Untuk itu Al Quran mengingatkan bahwa setan selalu mengintai dan menanti peluang untuk masuk melalui angan-angan para pengemban dakwah, demi merasuki misi mulia dan keistiqomahan mereka dalam berdakwah.

Kalau para rasul dan nabi telah dijaga dengan ketat oleh Allah sehingga setan tidak mungkin dapat merasuki dan mencampuri kemurnian manhaj dakwah dari pintu angan-angan dan keinginan fitrah para nabi dan rasul. Maka para pengemban dakwah yang tidak terjaga dan tidak ma'sum seperti para rasul seharusnya lebih berhati-hati dari sisi ini dan lebih bersikap waspada.

Allah lebih tahu tentang maslahat dakwah dibanding para penyeruh dakwah itu sendiri, dan mereka tidak dibebani dengan mencari-cari kemaslahatan buat dakwah dengan wasilah yang syubhat, tidak islami bahkan mengandung maksiat. Mereka hanya dibebani dengan perintah yang satu, yaitu benar-benar bersikap istiqomah dan tidak menyimpang dari manhaj Allah yang lurus.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ * وَلا تَرْكَنُوا إلَى الَذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لا تُنصَرُونَ

"Maka Istiqomahlah sebagaimana yang diperintahkan kepadamu, dan orang yang kembali bersamamu dan janganlah melampaui batas, sesungguh-Nya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan. Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang berbuat zhalim, maka kamu akan disentuh oleh api neraka, dan kamu tidaklah memiliki penolong selain Allah, kemudian kalian tidak akan ditolong (mendapat kemenangan)." (Hud: 112-113)

وَمَا النَّصْرُ إِلاّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ [آل عمران: 126]

Dan tidaklah kemenangan itu kecuali dari sisi Allah. (Ali Imran : 126)

Waalahu 'alam Bisshawab.

(Oleh Zulhamdi M. Saad, Lc, disarikan dari Kitab Zhilal)

Selasa, 20 September 2011

Tips Ringan Menghafal Al-Qur'an



RABU, 14 SEPTEMBER 2011 ADMIN

Anda sedang dan ingin menghafalkan Al-Qur'an dengan baik, tapi bingung, merasa kesusahan? Belum lagi kalau menghafalnya itu seorang diri alias otodidak dan belum punya pembimbing? nih.. saya bagi pengalaman sedikit step by step:

1. Usahakan mushaf yang anda pegang adalah mushaf ayat-ayat pojok (yang setiap halamannya diakhiri ayat-ayat pojok, karena itu standar bagi para penghafal)

2. Cari tempat yang mendukung dan bisa mengkondisikan diri dan pikiran menjadi tenang dan fresh, misalnya mesjid, musholla, kamar dan tempat-tempat yang sepi dan sunyi.

3. Mulai dari ayat-ayat yang kira-kira paling mudah dihafal seperti juz Amma (juz 30), juz 29, 28 dst, lima juz terakhir lah, karena semua itu ayat-ayat nya masih pendek dan standar 'susah'. Sebab kalau itu sudah berhasil kita lewati Insya Allah semua surat akan lancar..

4. Sebelum ayat yang dimaksud anda hafal, usahakan dibaca berulang-ulang sampai lidah kita lancar membacanya, akrab dan berkali-kali terlintas di benak / memori. Yaah, misalnya setengah halaman (7 baris) dibaca 7-10 kali. jangan sekali-kali menghafal jika anda belum membacanya sama sekali..

5.Setelah itu baru mulai dihafal satu persatu ayat-ayatnya.

6. Nah di sini, anda akan tahu kadar dan kekuatan daya ingat anda..

7. Ingat!! hafalan yang anda hafal (misalnya pagi ba'da subuh) dengan baik, belum tentu masih akan anda ingat di sore harinya. Karena tabiat orang Indonesia (menurut banyak sumber he he, issu baik) itu 'cepet dapet dan cepet pula hilangnya'.

8. Kalau anda sudah hafal setengah halamannya, coba jeda sedikit dengan melakukan aktifitas lain yang ringan..

9. Selang beberapa menit, taruhlah setengah jam, anda baca lagi hafalan yang sudah dihafal setengah jam yang lalu biszhohril ghaib (tanpa melihat mushaf)

10. Jika anda masih bisa membacanya dengan baik, berarti kemampuan anda cukup bagus..next, coba anda selingi dengan jeda ditinggal barang 3 jam, 4 jam sampai setengah hari..Jangan tambah dulu hafalan anda..minimal sehari 3 baris..ya kalau kuat setengah halaman..

11. Lalu ulang lagi hafalan yang anda hafal di pagi hari..Apabila masih lancar, maka Insya Allah anda punya potensi menghafal lebih banyak lagi..

12. Remember! Bahwa hafalan baru bisa dibilang teruji kelancarannya bila ia sudah berjalan dengan rentang waktu yang cukup lama sesuai dengan tingkat review /muroja'ahnya. Semakin banyak anda mereview sebuah hafalan, maka akan semakin kuat pula hafalan itu..begitu pula sebaliknya..semakin jarang diulang, maka akan semakin mudah hafalan itu 'permisi' dari memori anda..

13. Perlu dilatih, metode ini: Ketika anda sudah yakin ayat-ayat yang anda hafal itu melekat dalam ingatan anda, coba deh meletakkan mushaf yang anda gunakan agak jauh dari posisi anda..Mis: kalau diawal anda memegang mushaf, coba sekarang letakkan ia 5 meter dari posisi anda, lalu 10 meter, and then 20 m dst. Apa gunanya? cara ini untuk menguji seberapa kuat hafalan anda saat mushaf tidak bersama anda..Sebab nantinya kalau sudah hafal dan mulai dipakai di banyak event, tentunya kita akan membacanya dengan hafalan (memorize) bukan dengan mushaf lagi. Berarti khan harus sudah siap everything..Tidak lagi bergantung pakai mushaf.

14. Lama-kelamaan anda akan teruji membacanya tanpa mushaf dan dengan PD, karena mushaf tidak selalu bersama anda saat anda sibuk dengan aktivitas lain..

15. Usahakan hafalan anda yang sudah matang dan lancar direview setiap saat, di manapun (tentunya tempat yang suci yaah) dan kapanpun. Lebih bagus kalau dibaca saat anda santai, ketika menunggu seseorang, menyendiri dll.

16. Saya sarankan anda menghafal dan memuroja'ahnya dengan rekan seperjuangan atau minta disimak sama orang yang anda percayai..

Itu saja dulu mungkin resep dari saya..nantikan kiat lainnya..

Selamat mencoba..semoga sukses Good luck..


HIDAYATULLAH
ngajiquranonline.com

Sabtu, 16 April 2011

Menyerang Qiyadah Melumpuhkan Dakwah

Diposkan oleh admin di 10:25

Muhammad Abdullah Al Khatib*
...
Wahai Ikhwan, karena dakwah kalian merupakan kekuatan besar melawan kedzoliman, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian, bahkan tidak ada satu pun cara kecuali mereka manfaatkan untuk memerangi dan memberangus dakwah kalian.

Cara paling berbahaya yang digunakan oleh musuh yang licik adalah upaya menimbulkan friksi internal di dalam dakwah, sehingga mereka dapat memenangkan pertarungan karena kekuatan dakwah melemah akibat terpecah belah. Dan hal yang paling efektif menimbulkan friksi internal dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah antara prajurit dan pimpinan. Sebab bila prajurit sudah tidak memiliki sikap tsiqah pada pimpinannnya, maka makna ketaatan akan segera hilang dari jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin ada eksistensi kepemimpinan dan karenanya pula tidak mungkin jamaah dapat eksis.

Oleh karena itulah, maka Imam Asy-Syahid menekankan rukun tsiqah dalam Risalah At-Ta'alim dan menjadikannya sebagai salah satu rukun bai'at. Imam Asy-Syahid juga menjelaskan urgensi rukun ini dalam menjaga soliditas dan kesatuan jamaah, ia mengatakan:

"...Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah – yang timbal balik - antara pimpinan dan yang dipimpin menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan. "Ta'at dan mengucapkan perkataan yang baik adalah lebih baik bagi mereka" (QS 47:21). Dan tsiqah terhadap pimpinan merupakan segala-galanya bagi keberhasilan dakwah."

Kita tidak mensyaratkan bahwa yang berhak mendapat tsiqah kita adalah pemimpin yang berkapasitas sebagai orang yang paling kuat, paling bertakwa, paling mengerti, dan paling fasih dalam berbicara. Syarat seperti ini sangat sulit dipenuhi, bahkan hampir tidak terpenuhi sepeninggal Rasulullah saw. Cukuplah seorang pemimpin itu, seseorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikui amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang ikhwah (saudara) yang merasa bahwa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pimpinannya, maka hendaklah ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk dipergunakan oleh pimpinan, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinannya bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan jamaahnya.

Saudaraku, mungkin anda masih ingat dialog yang terjadi antara Abu Bakar ra dan Umar ra sepeninggal Rasulullah saw.

Umar berkata kepada Abu Bakar, 'Ulurkanlah tanganmu, aku akan membai'atmu.'
Abu Bakar berkata, 'Akulah yang membai'atmu.'
Umar berkata, 'Kamu lebih utama dariku.'
Abu Bakar berkata, 'Kamu lebih kuat dariku.'

Setelah itu Umar ra berkata, 'Kekuatanku kupersembahkan untukmu karena keutamaanmu.'
Umar pun terbukti benar-benar menjadikan kekuatannya sebagai pendukung Abu Bakar sebagai kholifah.

Tatkala seseorang bertanya kepada Imam Asy-Syahid, 'Bagaimana bila suatu kondisi menghalangi kebersamaan anda dengan kami? Menurut anda siapakah orang yang akan kami angkat sebagai pemimpin kami?'

Imam Asy-Syahid menjawab, 'Wahai ikhwan, angkatlah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah dia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian.’

‘Wahai Ikhwan, mungkin anda masih ingat perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dalam menyikapi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Sebagian besar sahabat berpendapat seperti pendapat Umar, yaitu tidak memerangi mereka. Meski demikian tatkala Umar mengetahui bahwa Abu Bakar bersikeras untuk memerangi mereka, maka ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan yang sempurna, 'Demi Allah, tiada lain yang aku pahami kecuali bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka aku tahu bahwa dialah yang benar.'

Andai Umar ra tidak memiliki ketsiqahan dan ketaatan yang sempurna, maka jiwanya akan dapat memperdayakannya, bahwa dialah pihak yang benar, apalagi ia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Allah swt telah menjadikan al haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar.'

Alangkah butuhnya kita pada sikap seperti Umar ra tersebut, saat terjadi perbedaan pendapat di antara kita, terutama untuk ukuran model kita yang tidak mendengar Rasululiah saw memberikan rekomendasi kepada salah seorang di antara kita, bahwa kebenaran itu pada lisan atau hatinya.

Mengingat sangat pentingnya ketsiqahan terhadap fikrah dan ketetapan pimpinan, maka musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan keragu-raguan pada Islam, jamaah, manhaj jamaah, dan pimpinannya. Betapa banyak serangan yang dilancarkan untuk melaksanakan misi tersebut.

Oleh karena itu, seorang akh jangan sampai terpengaruh oleh serangan-serangan tersebut. Ia harus yakin bahwa agamanya adalah agama yang haq yang diterima Allah swt. Ia harus yakin bahwa Islam adalah manhaj yang sempurna bagi seluruh urusan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia harus tetap tsiqah bahwa jamaahnya berada di jalan yang benar dan selalu memperhatikan Al Quran dan Sunah dalam setiap langkah dan sarananya. Ia harus tetap tsiqah bahwa pimpinannya selalu bercermin pada langkah Rasulullah saw serta para sahabatnya dan selalu tunduk kepada syariat Allah dalam menangani persoalan yang muncul saat beraktivitas serta selalu memperhatikan kemaslahatan dakwah.

Kami mengingatkan, bahwa terkadang sebagian surat kabar atau media massa lainnya mengutip pembicaraan atau pendapat yang dilakukan pada pimpinan jamaah, dengan tujuan untuk menimbulkan keragu-raguan, menggoncangkan kepercayaan, dan menciptakan ketidakstabilan di dalam tubuh jamaah. Oleh karena itu, seorang akh muslim tidak diperbolehkan menyimpulkan suatu hukum berdasarkan apa yang dibaca dalam media massa, tidak boleh melunturkan tsiqahnya, dan tidak boleh menyebarkannya atas dasar pembenaran. Ia harus melakukan tabayyun terlebih dahulu.

Allah swt menegur segolongan orang yang melakukan kesalahan dengan firman-Nya,
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka serta merta menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja di antaramu.” (QS 4:83).


*Dikutip dari Kitab Nadzharat Fii Risalah at-Ta'alim (Bab Ats-Tsiqoh) terbitan Asy-Syaamil.

*posted: pkspiyungan.blogspot.com

Trining Motivasi & Muhasabah oleh IKADI Pd Pariaman dgn IKADI Riau

Trining Motivasi & Muhasabah oleh IKADI Pd Pariaman dgn IKADI Riau
Foto Bersama Dengan Majelis Guru MAS Persada Ulakan Tapakis seusai Trining

BEKAL IDL ADHA

Sekarang ini kita telah memasuki bulan Dzulhijah (dalam kalender hijriyah). Bulan Dzulhijah merupakan salah satu dari empat bulan haram (suci) disamping bulan Dzulqaidah, Muharam dan Rajab. Bulan Dzulhijah adalah bulan yang penuh dengan keutamaan dan kebaikan. Dan sungguh sayang apabila bulan ini dilewatkan begitu saja.

Dari Abî Bakrah radhiyallâhu ‘anhu, dari Nabî Shallâllâhu‘alaihi wa Sallam beliau bersabda : “Dua bulan yang tidak memiliki kekurangan, adalah bulan ‘îd Ramadhân dan Dzulhijah.” (Muttafaq ‘alaihi).

Berikut ini adalah kumpulan artikel berkaitan dengan hukum seputar bulan Dzulhijjah, Idul Adha, dan berkurban dari majalah AsySyariah Online bulan Dzulhijjah. Semoga bermanfaat.

1. Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Di dalam perjalanan hidup di dunia ini, kita akan menjumpai hari-hari yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan keutamaan di dalamnya. Yaitu dengan dilipatgandakannya balasan amalan dengan pahala yang berlipat, tidak seperti hari-hari biasanya. Di antara hari-hari tersebut adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah….

2. Takutkah Anda Berkorban? Maukah Anda Berjuang?

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)

3. Sunnah yang Terabaikan Bagi Seseorang yang Mau Berqurban

Dari Ummu Salamah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada: ”Apabila telah masuk sepuluh (hari pertama bulan Dzulhijjah), salah seorang di antara kalian ingin berqurban, maka janganlah sedikit pun ia menyentuh (memotong) rambut (bulu)nya dan mengupas kulitnya.”

4. Berqurban Sebagai Tanda Pengorbanan
“… Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat: 100-109)

5. Tatacara Menyembelih Hewan Qurban

Membaca basmalah tatkala hendak menyembelih hewan. Dan ini merupakan syarat yang tidak bisa gugur baik karena sengaja, lupa, ataupun jahil (tidak tahu). Bila dia sengaja atau lupa atau tidak tahu sehingga tidak membaca basmalah ketika menyembelih, maka dianggap tidak sah dan hewan tersebut haram dimakan. Ini adalah pendapat yang rajih dari perbedaan pendapat yang ada.

6. Tempat Menyembelih Hewan Qurban

Yang masyhur dari perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya adalah mereka menyembelih hewan qurban di tempat domisili mereka. Inilah sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal tempat penyembelihan. Bahkan beliau punya kebiasaan menyembelih hewan qurban di tanah lapang tempat shalat Ied…

7. Waktu Penyembelihan Hewan Qurban

Awal waktu menyembelih hewan qurban adalah setelah shalat Ied secara langsung, tidak dipersyaratkan menunggu hingga selesai khutbah. Bila di sebuah tempat tidak terdapat pelaksanaan shalat Ied, maka waktunya diperkirakan dengan ukuran shalat Ied. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum waktunya maka diqadha pada waktunya bila qurbannya wajib karena nadzar….

8. Memilih Hewan Qurban

Perlu dipahami bahwa berqurban tidaklah sah kecuali dengan hewan ternak yaitu unta, sapi, atau kambing. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ِ“Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (Al-Hajj: 28)….

9. Qurban, Keutamaan dan Hukumnya

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)

10. Mendulang Mutiara Hikmah dari Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam

Kisah-kisah agung dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah peneguhan nyata akan tauhid. Ketaatan dan keimanan yang luar biasa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mewujud pada tindakan yang niscaya akan teramat berat ditunaikan manusia pada umumnya. Sebuah keteladanan yang mesti kita tangkap dan nyalakan dalam kehidupan kita.

Acara Pemutaran Video Kristenisasi

Acara Pemutaran Video Kristenisasi
Acara ini telah kita lakukan sejak 1 bulan pasca gempa di kab. padang pariaman, di mesjid-mesjid dan sekolah-sekolah yang ada di kab. dan kota padang pariaman